Saturday, January 14, 2012

OSTRISH

The Ostrich is one or two species of large flightless birds native to Africa, the only living member(s) of the genus Struthio. Some analyses indicate that the Somali Ostrich may be better considered a full species apart from the Common Ostrich, but most taxonomists consider it to be a subspecies.
Ostriches share the order Struthioniformes with the kiwisemus, and other ratites. It is distinctive in its appearance, with a long neck and legs and the ability to run at maximum speeds of about 70 kilometres per hour (43 mph)[3], the top land speed of any bird.[4][5] The Ostrich is the largest living speciesof bird and lays the largest egg of any living bird (extinct elephant birds of Madagascar and the giant moa of New Zealand did lay larger eggs).
The diet of Ostriches mainly consists of plant matter, though it also eats invertebrates. It lives in nomadic groups which contain between five and fifty birds. When threatened, the Ostrich will either hide itself by lying flat against the ground, or will run away. If cornered, it can attack with a kick from its powerful legs. Mating patterns differ by geographical region, but territorial males fight for a harem of two to seven females. These fights usually last just minutes, but they can easily cause death through slamming their heads into opponents.
The Ostrich is farmed around the world, particularly for its feathers, which are decorative and are also used as feather dusters. Its skin is used for leatherproducts[6] and its meat marketed commercially.[7]

Description

Head
Foot
Claws on the wings
Ostriches usually weigh from 63 to 130 kilograms (140–290 lb),[8][9] with exceptional male Ostriches weighing up to 156.8 kilograms (346 lb).[9] The feathers of adult males are mostly black, with white primaries and a white tail. However, the tail of one subspecies is buff. Females and young males are greyish-brown and white. The head and neck of both male and female Ostriches is nearly bare, with a thin layer of down.[8][10] The skin of the females neck and thighs is pinkish gray,[10] while the male's is blue-gray, gray or pink dependent on subspecies.
The long neck and legs keep their head 1.8 to 2.75 metres (6 to 9 ft) above the ground, and their eyes are said to be the largest of any land vertebrate – 50 millimetres (2.0 in) in diameter;[11] they can therefore perceive predators at a great distance. The eyes are shaded from sun light falling from above.[12][13]
Their skin varies in colour depending on the sub-species. The strong legs of the Ostrich are unfeathered and show bare skin, with the tarsus (the lowest upright part of the leg) being covered in scales – red in the male, black in the female.[9] The bird has just two toes on each foot (most birds have four), with the nail on the larger, inner toe resembling a hoof. The outer toe has no nail.[14] The reduced number of toes is an adaptation that appears to aid in running. Ostriches can run at over 70 kilometres per hour (43 mph) for up to 30 minutes.[citation needed] The wings reach a span of about 2 metres (7 ft)[15] and are used in mating displays and to shade chicks. The feathers lack the tiny hooks that lock together the smooth external feathers of flying birds, and so are soft and fluffy and serve as insulation. They have 50-60 tail feathers, and their wings have 16 primary, four alular and 20-23 secondary feathers.[9] The Ostrich's sternum is flat, lacking the keel to which wing muscles attach in flying birds.[16] The beak is flat and broad, with a rounded tip.[8] Like all ratites, the Ostrich has no crop,[17] and it also lacks a gallbladder.[18] They have three stomachs, and the caecum is 71 centimetres (28 in) long. Unlike all other living birds, the Ostrich secretes urine separately from faeces.[19]Contrary to all other birds who store the urine and faeces combined in the coprodeum, they store the faeces in the terminal rectum.[19] They also have unique pubic bones that are fused to hold their gut. Unlike most birds the males have a copulatory organ, which is retractable and 8 inches (20 cm) long. Their palate differs from other ratites in that the sphenoid and palatal bones are unconnected.[9]
At sexual maturity (two to four years), male Ostriches can be from 1.8 to 2.8 metres (5 ft 11 in to 9 ft 2 in) in height,[9] while female Ostriches range from 1.7 to 2 metres (5 ft 7 in to 6 ft 7 in). During the first year of life, chicks grow about 25 centimetres (10 in) per month. At one year of age, Ostriches weigh around 45 kilograms (100 lb). Their lifespan is up to 40 or 45 years.
A female ostrich can determine her own eggs amongst others in a communal nest.[citation needed]

Taxonomy

The Ostrich was originally described by Linnaeus in his 18th-century work, Systema Naturae under its current binomial name.[20] Its scientific name is derived from Latinstruthio meaning "Ostrich" and camelus meaning "camel", alluding to its dry habitat.[21]
The Ostrich belongs to the ratite order Struthioniformes. Other members include rheasemuscassowariesmoakiwi and the largest bird ever, the now-extinct Elephant Bird (Aepyornis). However, the classification of the ratites as a single order has always been questioned, with the alternative classification restricting the Struthioniformes to the Ostrich lineage and elevating the other groups. Presently, molecular evidence is equivocal[citation needed] whilepaleobiogeographical and paleontological considerations are slightly in favor of the multi-order arrangement.

BURUNG WALET


Burung walet adalah sejenis burung pemakan serangga dengan cara meluncur menerkam mangsanya. Burung walet berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran kecil serta memiliki sayap yang berbentuk sabit yang runcing. Burung walet bertempat tinggal di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang dan gelap.

Manfaat dari budidaya burung walet adalah sarang dari air liur burung walet harganya mahal. Air liur burung walet sendiri berguna untuk menyembuhkan penyakit paru-paru, panas dalam, melancarkan peredaran darah dan penambah tenaga.
Anda tertarik dengan budidaya burung walet. Jangan khawatir tentang informasi budidaya burung walet, blogiztic.net akan mengupas cara budidaya burung walet yang benar sebagi berikut.

Persyaratan lokasi

- Dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 m dpl.
- Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh kemajuan teknologi dan perkembangan masyarakat.
- Daerah yang jauh dari gangguan burung-burung buas pemakan daging.
- Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai, rawa-rawa merupakan daerah yang paling tepat.
Penyiapan sarana yang diprlukan
Gedung untuk kandang walet harus memiliki suhu, kelembaban dan penerangan yang mirip dengan gua-gua alami. Suhu gua alami berkisar antara 24-26 derajat C dan kelembaban ± 80-95 %. Pengaturan kondisi suhu dan kelembaban dilakukan dengan:
Peralatan yang dibutuhkan
- Melapisi plafon dengan sekam setebal 2° Cm
- Membuat saluran-saluran air atau kolam dalam gedung.
- Menggunakan ventilasi dari pipa bentuk “L” yang berjaraknya 5 m satu lubang, berdiameter 4 cm.
- Menutup rapat pintu, jendela dan lubang yang tidak terpakai.
- Pada lubang keluar masuk diberi penangkal sinar yang berbentuk corong dari goni atau kain berwarna hitam sehingga keadaan dalam gedung akan lebih gelap. Suasana gelap lebih disenangi walet.
Bentuk dan konstruksi gedung
Umumnya, rumah walet seperti bangunan gedung besar, luasnya bervariasi dari 10×15 m 2 sampai 10×20 m 2 . Makin tinggi wuwungan (bubungan) dan semakin besar jarak antara wuwungan dan plafon, makin baik rumah walet dan lebih disukai burung walet. Rumah tidak boleh tertutup oleh pepohonan tinggi. Tembok gedung dibuat dari dinding berplester sedangkan bagian luar dari campuran semen. Bagian dalam tembok sebaiknya dibuat dari campuran pasir, kapur dan semen dengan perbandingan 3:2:1 yang sangat baik untuk mengendalikan suhu dan kelembaban udara. Untuk mengurangi bau semen dapat disirami air setiap hari. Kerangka atap dan sekat tempat melekatnya sarang-sarang dibuat dari kayu-kayu yang kuat, tua dan tahan lama, awet, tidak mudah dimakan rengat. Atapnya terbuat dari genting. Gedung walet perlu dilengkapi dengan roving room sebagai tempat berputar-putar dan resting room sebagai tempat untuk beristirahat dan bersarang. Lubang tempat keluar masuk burung berukuran 20×20 atau 20×35 cm 2 dibuat di bagian atas. Jumlah lubang tergantung pada kebutuhan dan kondisi gedung. Letaknya lubang jangan menghadap ke timur dan dinding lubang dicat hitam.

Pembibitan burung walet

Umumnya para peternak burung walet melakukan dengan tidak sengaja. Banyaknya burung walet yang mengitari bangunan rumah dimanfaatkan oleh para peternak tersebut. Untuk memancing burung agar lebih banyak lagi, pemilik rumah menyiapkan tape recorder yang berisi rekaman suara burung Walet. Ada juga yang melakukan penumpukan jerami yang menghasilkan serangga-serangga kecil sebagai bahan makanan burung walet.

Pemilihan bibit dan calon induk

Sebagai induk walet dipilih burung sriti yang diusahakan agar mau bersarang di dalam gedung baru. Cara untuk memancing burung sriti agar masuk dalam gedung baru tersebut dengan menggunakan kaset rekaman dari wuara walet atau sriti. Pemutaran ini dilakukan pada jam 16.00–18.00, yaitu waktu burung kembali mencari makan.
Perawatan bibit dan calon induk
Di dalam usaha budidaya walet, perlu disiapkan telur walet untuk ditetaskan pada sarang burung sriti. Telur dapat diperoleh dari pemilik gedung walet yang sedang melakukan “panen cara buang telur”. Panen ini dilaksanakan setelah burung walet membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur walet diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Telur yang dibuang dalam panen ini dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak populasi burung walet dengan menetaskannya di dalam sarang sriti.
Memilih telur burung walet
Telur yang dipanen terdiri dari 3 macam warna, yaitu :
- Merah muda, telur yang baru keluar dari kloaka induk berumur 0–5 hari.
- Putih kemerahan, berumur 6–10 hari.
- Putih pekat kehitaman, mendekati waktu menetas berumur 10–15 hari.
- Telur walet berbentuk bulat panjang, ukuran 2,014×1,353 cm dengan berat 1,97 gram. Ciri telur yang baik harus kelihatan segar dan tidak boleh menginap kecuali dalam mesin tetas. Telur tetas yang baik mempunyai
- kantung udara yang relatif kecil. Stabil dan tidak bergeser dari tempatnya. Letak kuning telur harus ada ditengah dan tidak bergerak-gerak, tidak ditemukan bintik darah. Penentuan kualitas telur di atas dilakukan dengan peneropongan.
Cara menetaskan telur walet pada sarang sriti.
Pada saat musim bertelur burung sriti tiba, telur sriti diganti dengan telur walet. Pengambilan telur harus dengan sendok plastik atau kertas tisue untuk menghindari kerusakan dan pencemaran telur yang dapat menyebabkan burung sriti tidak mau mengeraminya. Penggantian telur dilakukan pada siang hari saat burung sriti keluar gedung mencari makan. Selanjutnya telur-telur walet tersebut akan dierami oleh burung sriti dan setelah menetas akan diasuh sampai burung walet dapat terbang serta mencari makan.
Menetaskan telur walet pada mesin penetas
Suhu mesin penetas sekitar 40 ° C dengan kelembaban 70%. Untuk memperoleh kelembaban tersebut dilakukan dengan menempatkan piring atau cawan berisi air di bagian bawah rak telur. Diusahakan agar air didalam cawan tersebut tidak habis. Telur-telur dimasukan ke dalam rak telur secara merata atau mendata dan jangan tumpang tindih. Dua kali sehari posisi telur-telur dibalik dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan embrio. Di hari ketiga dilakukan peneropongan telur. Telur-telur yang kosong dan yang embrionya mati dibuang. Embrio mati tandanya dapat terlihat pada bagian tengah telur terdapat lingkaran darah yang gelap. Sedangkan telur yang embrionya hidup akan terlihat seperti sarang laba-laba. Pembalikan telur dilakukan sampai hari ke-12. Selama penetasan mesin tidak boleh dibuka kecuali untuk keperluan pembalikan atau mengisi cawan pengatur kelembaban. Setelah 13–15 hari telur akan menetas.
Perawatan ternak burung walet
Anak burung walet yang baru menetas tidak berbulu dan sangat lemah. Anak walet yang belum mampu makan sendir perlu disuapi dengan telur semut (kroto segar) tiga kali sehari. Selama 2–3 hari anak walet ini masih memerlukan pemanasan yang stabil dan intensif sehingga tidak perlu dikeluarkan dari mesin tetas. Setelah itu, temperatur boleh diturunkan 1–2 derajat/hari dengan cara membuka lubang udara mesin. Setelah berumur ± 10 hari saat bulu-bulu sudah tumbuh anak walet dipindahkan ke dalam kotak khusus. Kotak ini dilengkapi dengan alat pemanas yang diletakan ditengah atau pojok kotak. Setelah berumur 43 hari, anak-anak walet yang sudah siap terbang dibawa ke gedung pada malam hari, kemudian dletakan dalam rak untuk pelepasan. Tinggi rak minimal 2 m dari lantai. Dengan ketinggian ini, anak waket akan dapat terbang pada keesokan harinya dan mengikuti cara terbang walet dewasa.
Pakan burung walet
Burung walet merupakan burung liar yang mencari makan sendiri. Makanannya adalah serangga-serangga kecil yang ada di daerah pesawahan, tanah terbuka, hutan dan pantai/perairan. Untuk mendapatkan sarang walet yang memuaskan, pengelola rumah walet harus menyediakan makanan tambahan terutama untuk musim kemarau.

Pemeliharaan kandang burung walet

Apabila gedung sudah lama dihuni oleh walet, kotoran yang menumpuk di lantai harus dibersihkan. Kotoran ini tidak dibuang tetapi dimasukan dalam karung dan disimpan di gedung.

Hama dan penyakit burung walet

a. Tikus
Hama ini memakan telur, anak burung walet bahkan sarangnya. Tikus mendatangkan suara gaduh dan kotoran serta air kencingnya dapat menyebabkan suhu yang tidak nyaman.
Cara pencegahan tikus dengan menutup semua lubang, tidak menimbun barang bekas dan kayu-kayu yang akan digunakan untuk sarang tikus.
b. Semut
Semut api dan semut gatal memakan anak walet dan mengganggu burung walet yang sedang bertelur.
Cara pemberantasan dengan memberi umpan agar semut-semut yang ada di luar sarang mengerumuninya. Setelah itu semut disiram dengan air panas.
c. Kecoa
Binatang ini memakan sarang burung sehingga tubuhnya cacat, kecil dan tidak sempurna.
Cara pemberantasan dengan menyemprot insektisida, menjaga kebersihan dan membuang barang yang tidak diperlukan dibuang agar tidak menjadi tempat persembunyian.

d. Cicak dan Tokek

Binatang ini memakan telur dan sarang walet. Tokek dapat memakan anak burung walet. Kotorannya dapat mencemari raungan dan suhu yang ditimbulkan mengganggu ketenangan burung walet.
Cara pemberantasan dengan diusir, ditangkap sedangkan penanggulangan dengan membuat saluran air di sekitar pagar untuk penghalang, tembok bagian luar dibuat licin dan dicat dan lubang-lubang yang tidak digunakan ditutup.
Panen budidaya burung walet
Sarang burung walet dapat diambil atau dipanen apabila keadaannya sudah memungkinkan untuk dipetik. Untuk melakukan pemetikan perlu cara dan ketentuan tertentu agar hasil yang diperoleh bisa memenuhi mutu sarang walet yang baik. Jika terjadi kesalahan dalam menanen akan berakibat fatal bagi gedung dan burung walet itu sendiri. Ada kemungkinan burung walet merasa tergangggu dan pindah tempat. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, para pemilik gedung perlu mengetahui teknik atau pola dan waktu pemanenan. Pola panen sarang burung dapat dilakukan oleh pengelola gedung walet dengan beberapa cara, yaitu:
a. Panen rampasan
Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak baik dalam pelestaraian burung walrt karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena dipicu untuk terus menerus membuat sarang sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya pun merosot menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pemacuan waktu untuk membuat sarang dan bertelur.
b. Panen Buang Telur
Cara ini dilaksanankan setelah burung membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini mempunyai keuntungan yaitu dalam setahun dapat dilakukan panen hingga 4 kali dan mutu sarang yang dihasilkan pun baik karena sempurna dan tebal. Adapun kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk menetaskan telurnya.
c. Panen Penetasan
Pada pola ini sarang dapat dipanen ketika anak-anak walet menetas dan sudah bisa terbang. Kelemahan pola ini, mutu sarang rendah karena sudah mulai rusak dan dicemari oleh kotorannya. Sedangkan keuntungannya adalah burung walet dapat berkembang biak dengan tenang dan aman sehingga polulasi burung dapat meningkat.
Tahap-tahap dalam panen burung walet
a. Panen 4 kali setahun
Panen ini dilakukan apabila walet sudah kerasan dengan rumah yang dihuni dan telah padat populasinya. Cara yang dipakai yaitu panen pertama dilakukan dengan pola panen rampasan. Sedangkan untuk panen selanjutnya dengan pola buang telur.
b. Panen 3 kali setahun
Frekuensi panen ini sangat baik untuk gedung walet yang sudah berjalan dan masih memerlukan penambahan populasi. Cara yang dipakai yaitu, panen tetasan untuk panen pertama dan selanjutnya dengan pola rampasan dan buang telur.

c. Panen 2 kali setahun

Cara panen ini dilakukan pada awal pengelolaan, karena tujuannya untuk memperbanyak populasi burung walet.
Pascapanen budidaya burng walet
Setelah hasil panen walet dikumpulkan dalu dilakukan pembersihan dan penyortiran dari hasil yang didapat. Hasil panen dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel yang kemudian dilakukan 
pemisahan antara sarang walet yang bersih dengan yang kotor.

CARA MEMBIAK IKAN LAGA

LANGKAH PERTAMA: Kenalpasti Jantina
Cara nak kenalpasti ikan laga jantan dan ikan betina senang je. Biasernya ikan jantan ekor die panjang, warna lebih terang, dan lebih agresif. Tapi sekarang ni para penternak dah hasilkan betina yang ekor panjang dan warna yang terang. Jadi untuk kenal pasti ikan laga betina ialah melalui abdomen dan juga biji putih di bahagian anusnya. Tengok gambar kat bawah tu..nampak tak biji putih kat perut tu.
LANGKAH KEDUA : Pilih Induk Yang Matang
Untuk membiakkan ikan laga, anda mesti memastikan induk yang akan dibiakkan adalah matang. Ikan laga biasenya dah matang bila mencapai umur 4 bulan sekiranya diberi makanan yang secukupnya. Tapi anda boleh memerhatikan ikan laga tersebut.
Jantan
Induk jantan yang matang dan bersedia untuk membiak akan membuat buih di permukaan..tuh maknenya dia tengah ‘hot’ arr tuh.
Betina
Bagi yang betina pula, anda perlu perhatikan perut atau abdomennya. Induk ikan laga betina yang bersedia untuk dibiakkan mempunyai perut yang buncit dan terdapat biji putih di bahagian anusnya.
LANGKAH KETIGA: Sediakan Tangki Yang Sesuai
Bagi kaedah pembiakan, anda perlu menyediakan tangki yang selesa sekurang-kurangnya bersaiz 1 kaki x 1 kaki x 1 kaki. Anda boleh menggunakan macam-macam contohnya akuarium, baldi, dan sebagainya. Lagi besar lagi bagus kerana tangki yang besar boleh meningkatkan peluang anak-anak ikan untuk hidup. Masukkan air lebih kurang 4,5 inci dari dasar. Jangan letak air terlalu dalam, nanti payah induk-induk tu nak kutip telur. Dalam tangki tu kalau boleh letak la sikit perlindungan untuk induk betina macam kayu atau pokok kiambang. Mana tahukan kot-kot yang jantan ganas. Senangla induk betina nak menyorok bila kena kejar. Satu petua nak kongsi dengan anda semua, anda boleh meletakkan daun ketapang kering atau nama saintifiknya almond leaf ke dalam tangki tu..daun ketapang ni macam tongkat ali atau booster la untuk ikan ni..air akan jadi berasid dan sesuai untuk pembiakan..die lagi gersang..dan cepat membiak. Untuk meransang pembentukan buih oleh jantan, sebaiknya letak la polistrene atau kiambang untuk mengekalkan buih tuh sebab ikan akan suka buat buih di bawahnya.
Ni la daun ketapang, tapi jangan letak yang masih hijau lak. Letak yang dah kering.
LANGKAH KEEMPAT: Masukkan Induk Jantan Dahulu Dalam Tangki
Sebaiknya anda letak induk jantan dulu dalam tangki pembiakan. Induk betina ni anda masukkan dalam bekas kaca atau apa-apa bekas lutsinar (biar yang jantan boleh nampak). Lepas tu masukkan dalam tangki yang ada induk jantan tadi. Ikan ni tak boleh dilepaskan sekali dalam tangki kerana yela..nama pun ikan laga..nanti ikan tu akan berlaga. Kalau betina kalah takpe, tapi kalau induk jantan yang kalah maknanya anda kena cari calon suami lain la untuk dia. Jadi macam ni la caranya untuk mengelakkan dari ikan-ikan ni berlaga. Kena kenal-kenalkan diorg dulu.

LANGKAH KEEMPAT: Masukkan Induk Betina Selepas Induk Jantan Buat Buih
Sekiranya anda nampak induk jantan telah buat buih. Maknanya dia telah bersedia untuk mengawan. Buih tu sebenarnya adalah sarang. Selepas jantan buat buih masukkan la induk betina. Induk jantan dan betina nie sebaiknya dicampurkan atau dikahwinkan di awal pagi. Mula-mula anda lepaskan induk betina, induk jantan akan mengejar induk betina. Tapi jangan risau, sang jantan tu dah lama sangat mengidam kat induk betina tu. Biasanya menjelang tengahari ikan nie akan melakukan ritual peneluran..ikan jantan akan menari dengan mengibaskan ekornya, membelit betina dan mengutip telur dan memasukkannya ke dalam buih..’projek’ nie akan berlaku dari setengah jam hinga sejam..selepas ‘projek’ tu dah selesai, eloklah anda alih yg betina dan tinggalkan yang jantan sahaja..sebab jantan akan jaga telur dan anak-anak ikan nanti. Induk betina pula akan makan telur atau anak, tapi tak semua la induk betina akan makan telur atau anak. Jadi untuk selamat, lagi mudah anda asingkan je.
Telur tu akan menetas dalam masa 24jam hingga 36jam bergantung pada suhu semasa..sebaiknya letak di atas kayu atau rak..jangan letak atas simen..sejuk..mati ikan nanti. Selepas sehari anak ikan menetas, anda boleh samaada nak asingkan induk jantan atau tidak. Kalau anda tengok induk jantan ni makan anak, anda kena asingkan cepat-cepat. Tapi kalau tak makan, tak perlu asing la sebab induk jantan ni akan jaga dan pastikan tangki anda tidak dipenuhi jentik-jentik. Jentik-jentik ni boleh makan anak-anak ikan.
Ini la ritual bertelur
LANGKAH KELIMA: Penjagaan anak
Anak2 ikan laga perlu diberi makan selepas 3 hari mereka menetas, seeloknya rotifer disamping air hijau sebagai supplemen..kebaikan air hijau ni die akan melindungi badan anak ikan dari penembusan cahaya matahari yang boleh merosakkan mata dan organ anak ikan tersebut. Air hijau nie sebenarnya mengandungi phytoplankton bernama chorella secara majoritinya, tapi ada gak banyak species lain yg ada. Ia boleh didapati dari air ternakan ikan tilapia, ikan keli.
Selepas seminggu cuba ar dapatkan moina atau artemia untuk peringkat pemakanan seterusnya..ikan laga nie akan makan apa sahaja yang muat dengan mulutnye..satu lagi tips ikan laga nie akan lagi cantik dan cepat membesar jika diberi makanan hidup seperti jentik-jentik ataupun frozen blood worm.